Rabu, 23 November 2016

KONSEP PEMBELAJARAN MENYIMAK DALAM PROSES PENGAJARAN BAHASA ARAB MI


A.      PENDAHULUAN
Menyimak merupakan kemampuan yang memungkinkan seorang pemakai bahasa untuk memahami bahasa yang digunakan secara lisan. Menyimak dengan baik adalah keterampilan dasar dalam mempelajari bahasa asing atau bahasa ibu. Sehingga seseorang yang belum memiliki kemampuan ini, maka ia tidak dapat mempelajari bahasa dengan baik dan berkurang kemampuannya.
 Menyimak merupakan kegiatan yang sangat penting dalam kehidupan kita, dan juga merupakan sarana yang pertama kalinya digunakan oleh seseorang dalam hidup untuk bisa berinteraksi dengan orang lain. Dengan menyimak seseorang memperoleh sebuah kosakata, gaya bahasa, bentuk bahasa, tata bahasa dan skill yang lain seperti kalam, qiro’ah dan kitabah.
Dalam makalah ini kami akan membahas tentang pengertian pembelajaran menyimak, menjelaskan pembelajaran keterampilan menyimak, langkah-langkah pembelajaran menyimak dan kelebihan serta kekurangan dalam pembelajaran menyimak. 

B.       PEMBAHASAN
A.  Pengertian Pembelajaran Menyimak (istima’)
Menyimak adalah menuntut adanya kesengajaan dan perhatian dalam mendengarkan segala sesuatu, dan mendengar dengan serius adalah tingkatan lebih diatas menyimak yang menuntut konsentrasi dan perhatian yang lebih pada pembicaraan si penutur.
Menurut Abdul Majid Sayyid Ahmad Mansur mendefinisikan istima’ sebagai proses mendengarkan dengan serius (inshat) kode-kode bahasa yang diucapkan kemudian ditafsirkan.
Ada empat unsur yang harus diperhatikan dalam menyimak, yaitu:
1.    Memahami makna secara umum
2.    Menafsiri pembicaraan dan berinteraksi
3.    Mengevaluasi dan mengkritik pembicaraan
4.    Menggabungkan isi yang diterima dengan pengalaman individu yang telah dimiliki.[1]
B.  Pembelajaran Keterampilan Menyimak (maharah al-istima’)
Keterampilan menyimak adalah kemampuan seseorang dalam memahami kata atau kalimat yang diujarkan oleh mitra bicara atau media tertentu. Kemampuan ini sebenarnya dapat dicapai dengan latihan yang terus menerus untuk mendengarkan perbedaan-perbedaan bunyi, unsur-unsur kata dengan unsur-unsur lainnya menurut makhraj huruf yang betul baik langsung dari penutur aslinya maupun melalui rekaman.[2]
1.    Prinsip-prinsip Dalam Pembelajaran Keterampilan Menyimak
a.    Mengenal bunyi-bunyi bahasa arab dan makhrajnya
b.    Membedakan antara huruf-huruf yang berbeda
c.    Memiliki kemampuan mengetahui perbedaan antara huruf-huruf yang berbeda
d.   Mampu dalam tata bahasa arab dalam menganalisa lambang-lambang suara atau kode-kode
e.    Sebaiknya mengetahui arti kosakata bahasa arab
f.     Mampu memberikan perhatian sepanjang waktu
g.    Adanya dorongan untuk terus menyimak
h.    Berada dalam kondisi jiwa yang penuh toleransi untuk menyimak sehingga ucapan penutur tidak membosankan
i.      Mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi dalam makna sebagai akibat dari perubahan bunyi dan tekanan bunyi.[3]
2.    Macam-macam Keterampilan Menyimak
Menurut Ahmad Ulyan, ada beberapa macam jenis keterampilan istima’, yaitu antara lain:
1)   Menyimak secara terfokus, yaitu menyimak dengan penuh kesengajaan yang dilakukan seseorang dalam kehidupannya dalam belajar dan bermasyarakat, misalnya menyimak pidato, khutbah dll.
2)   Menyimak tidak terfokus, yaitu menyimak apa yang tersebar disekitar kita, misalnya menyimak radio dan televisi bersama beberapa teman.
3)   Menyimak secara bergantian, yaitu sekelompok orang yang sedang menyimak diskusi dengan judul tertentu, disitu orang berbicara sedang yang lain mendengarkan.
4)   Menyimak dengan menganalisa, yaitu menganalisa apa yang telah didengar dari penutur.
C.  Langkah-Langkah dalam Pembelajaran Menyimak.
Dalam ketrampilan menyimak bahasa asing, terdapat langkah-langkah dalam kegiatan pembelajarannya. Diantara langkah-langkah tersebut dibagi dalam lima tahapan. Diantarannya adalah sebagai berikut:
1.    Fase pengenalan (identifikasi)
Pengajaran pada tahap pertama ini difokuskan kepada fonologi atau latihan-latihan yang bertujuan agar siswa dapat mengidentifikasi  bunyi-bunyi bahasa arab secara tepat. Latihan ini penting karena sistem tata bunyi bahasa arab dan bahasa indonesia mempunyai perbedaan yang banyak. Oleh karena itu, dalam hal ini guru dituntut untuk memberikan contoh pengucapan bunyi dengan baik dan benar, lalu diikuti oleh siswa.
2.    Fase pemahaman permulaan
Pada fase ini, para pelajar diajak untuk memahami pembicaraan sederhana yang dilontarkan oleh guru. Dalam fase ini tidak ada respon lisan, tetapi dengan perbuatan. Sebagai tahap permulaan, merespon dengan perbuatan dipandang lebih ringan dibandingkan dengan lisan.
3.    Fase pemahaman pertengahan
Pada fase ini pelajar diberi pertanyaan-pertanyaan secara lisan atau tertulis. Sementara itu kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan pada fase ini adalah:
·         Guru membacakan bacaan pendek atau memutar rekaman. Setelah itu guru memberikan pertanyaan-pertanyaan  mengenai isi bacaan atau rekaman tersebut. Jawaban pelajar bisa berbentuk lisan atau tertulis.
·         Guru memutar rekaman percakapan dua oarang penutur asli. Selanjutnya guru menanyakan  isi percakap dengan pertanyaan yang lebih mendetail dibandingkan dengan  poin a . pertanyaan tersebut dapat berupa ; apa isi percakapan itu? Bagaimana nada berbicara orang itu (senang, sedih, atau marah)? Di mana mereka berbicara? Atau, pernyataan serupa lainnya. Jawaban siswa bisa berupa bentuk lisan atau tulisan.
·         Guru memutarkan rekaman percakapan seseorang, misalnya percakapan didalam telepon, namun yang terdengar hanya satu orang. Para siswa mendengarkan percakapan ini dengan saksama. Lalu, mereka diminta menebak sesuatu yang dikatakan oleh lawan bicara orang itu. Alternatif jawaban dapat menggunakan pilihan ganda.
4.    Fase Pemahaman Lanjutan
Pada fase ini, para siswa diberi latihan  untuk mendengarkan berita-berita dari radio atau televisi. Bisa juga, mereka mendengar komentar-komentar tentang hal-hal yang disiarkan oleh radio atau tv. Dalam kegiatan ini mereka dianjurkan mendengarkan sambil membuat catatan mengenai fakta-fakta tertentu yang terjadi dalam materi yang diperdengarkan, seperti nama, tanggal, tahun, tempat, waktu, dan lain sebagainnya. Setelah itu, mereka ditugaskan membuat ringkasan bahasa Arab sesuai dengan tingkat penguasaan mereka terhadap materi yang sudah disampaikan.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyampaikan materi menyimak untu sebuah pemahaman (fahmu al-masmu’). Diantarannya adalah sebagai berikut:
a.    Dalam pelajaran menyimak, hendanya di pupuk kemauan siswa untuk menafsirkan mana kalimat melalui unsur-unsur bunyi.
b.    Siswa perlu dilatih agar dapat megidentifikasai gagasan pokok (main idea) dan membedakan dengan gagasan tambahan dalam materi dialog teks yang didengarkannya.
c.    Dalam memilih teks lisan, hendaknya guru memperlihatkan usia dan minat siswa, kosakata yang dimiliki siswa, serta tingkat kematangan dan kecepatan siswa dalam mengikuti tes lisan.
d.   Penyajian teks lisan bagi tingkat permulaan perlu diulang agar siswa dapat membiasakan diri.
e.    Penggunaan alat peraga sangat membantu.
f.     Untuk siswa tingkat lanjut, situasi atau konteks perlu dibuat demi mendekati situasi sehari-hari.
g.    Guru hendaknya menuliskan kata-kata kunci sebelum pelajaran dimulai.
h.    Guru menyampaikan sesuatu yang harus dikerjakan kepada siswa dengan jelas.
i.      Guru mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang disimak.[4]
D.  Kelebihan dan Kelemahan dalam Pembelajaran Menyimak
Diantara kelemahan dalam pembelaran menyimak yang sering dialami siswa dalam aktifitas menyimak, antara lain:
1.    Kesulitan siswa dalam menangkap suara tertentu dari bahasa yang dipelajari.
2.    Kesulitan dalam keharusan memahami, menangkap setiap kata. Jika ada sesuatu yang terlewatkan, siswa akan merasa gagal dan khawatir.
3.    Siswa memahami pembicaraan seseorang dengan cara pelan.
4.    Butuh mendengarkan lebih dari 1 kali.
5.    Keterbatasan kemampuan siswa dalam mengambil seluruh informasi.
6.    Jika kegiatan istima’terlalu lama, siswa semakin sulit untuk berkonsentrasi.[5]


[1]  Abd Wahab Rosyidi dan Mamlu’atul Ni’mah, Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-Maliki Press, 2011), hlm.84.
[2]  Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm.130.
[3]  Abd Wahab Rosyidi dan Mamlu’atul Ni’mah, Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-Maliki Press, 2011), hlm. 85-86.
[4]  Ulin Nuha, Metodologi Super Efektif Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: Diva Press, 2012), hlm. 87-98.
[5]  Abd Wahab Rosyidi dan Mamlu’atul Ni’mah, Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-Maliki Press, 2011), hlm. 88.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar