KONSEP PEMBELAJARAN MENYIMAK DALAM PROSES PENGAJARAN BAHASA ARAB MI
A. PENDAHULUAN
Menyimak
merupakan kemampuan yang memungkinkan seorang pemakai bahasa untuk memahami
bahasa yang digunakan secara lisan. Menyimak dengan baik adalah keterampilan
dasar dalam mempelajari bahasa asing atau bahasa ibu. Sehingga seseorang yang
belum memiliki kemampuan ini, maka ia tidak dapat mempelajari bahasa dengan
baik dan berkurang kemampuannya.
Menyimak merupakan kegiatan yang sangat
penting dalam kehidupan kita, dan juga merupakan sarana yang pertama kalinya
digunakan oleh seseorang dalam hidup untuk bisa berinteraksi dengan orang lain.
Dengan menyimak seseorang memperoleh sebuah kosakata, gaya bahasa, bentuk
bahasa, tata bahasa dan skill yang lain seperti kalam, qiro’ah dan kitabah.
Dalam
makalah ini kami akan membahas tentang pengertian pembelajaran menyimak,
menjelaskan pembelajaran keterampilan menyimak, langkah-langkah pembelajaran
menyimak dan kelebihan serta kekurangan dalam pembelajaran menyimak.
B. PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pembelajaran Menyimak (istima’)
Menyimak
adalah menuntut adanya kesengajaan dan perhatian dalam mendengarkan segala
sesuatu, dan mendengar dengan serius adalah tingkatan lebih diatas menyimak
yang menuntut konsentrasi dan perhatian yang lebih pada pembicaraan si penutur.
Menurut
Abdul Majid Sayyid Ahmad Mansur mendefinisikan istima’ sebagai proses
mendengarkan dengan serius (inshat) kode-kode bahasa yang diucapkan kemudian
ditafsirkan.
Ada
empat unsur yang harus diperhatikan dalam menyimak, yaitu:
1.
Memahami makna secara umum
2.
Menafsiri pembicaraan dan berinteraksi
3.
Mengevaluasi dan mengkritik pembicaraan
4.
Menggabungkan isi yang diterima dengan
pengalaman individu yang telah dimiliki.[1]
B. Pembelajaran
Keterampilan Menyimak (maharah al-istima’)
Keterampilan
menyimak adalah kemampuan seseorang dalam memahami kata atau kalimat yang
diujarkan oleh mitra bicara atau media tertentu. Kemampuan ini sebenarnya dapat
dicapai dengan latihan yang terus menerus untuk mendengarkan
perbedaan-perbedaan bunyi, unsur-unsur kata dengan unsur-unsur lainnya menurut
makhraj huruf yang betul baik langsung dari penutur aslinya maupun melalui
rekaman.[2]
1.
Prinsip-prinsip Dalam Pembelajaran
Keterampilan Menyimak
a.
Mengenal bunyi-bunyi bahasa arab dan
makhrajnya
b.
Membedakan antara huruf-huruf yang
berbeda
c.
Memiliki kemampuan mengetahui perbedaan
antara huruf-huruf yang berbeda
d.
Mampu dalam tata bahasa arab dalam
menganalisa lambang-lambang suara atau kode-kode
e.
Sebaiknya mengetahui arti kosakata
bahasa arab
f.
Mampu memberikan perhatian sepanjang
waktu
g.
Adanya dorongan untuk terus menyimak
h.
Berada dalam kondisi jiwa yang penuh
toleransi untuk menyimak sehingga ucapan penutur tidak membosankan
i.
Mengetahui perubahan-perubahan yang
terjadi dalam makna sebagai akibat dari perubahan bunyi dan tekanan bunyi.[3]
2.
Macam-macam Keterampilan Menyimak
Menurut
Ahmad Ulyan, ada beberapa macam jenis keterampilan istima’, yaitu antara lain:
1)
Menyimak secara terfokus, yaitu menyimak
dengan penuh kesengajaan yang dilakukan seseorang dalam kehidupannya dalam
belajar dan bermasyarakat, misalnya menyimak pidato, khutbah dll.
2)
Menyimak tidak terfokus, yaitu menyimak
apa yang tersebar disekitar kita, misalnya menyimak radio dan televisi bersama
beberapa teman.
3)
Menyimak secara bergantian, yaitu
sekelompok orang yang sedang menyimak diskusi dengan judul tertentu, disitu
orang berbicara sedang yang lain mendengarkan.
4)
Menyimak dengan menganalisa, yaitu menganalisa
apa yang telah didengar dari penutur.
C.
Langkah-Langkah
dalam Pembelajaran Menyimak.
Dalam ketrampilan menyimak bahasa asing, terdapat langkah-langkah
dalam kegiatan pembelajarannya. Diantara langkah-langkah tersebut dibagi dalam
lima tahapan. Diantarannya adalah sebagai berikut:
1.
Fase pengenalan
(identifikasi)
Pengajaran pada tahap pertama ini difokuskan kepada fonologi atau
latihan-latihan yang bertujuan agar siswa dapat mengidentifikasi bunyi-bunyi bahasa arab secara tepat. Latihan
ini penting karena sistem tata bunyi bahasa arab dan bahasa indonesia mempunyai
perbedaan yang banyak. Oleh karena itu, dalam hal ini guru dituntut untuk
memberikan contoh pengucapan bunyi dengan baik dan benar, lalu diikuti oleh
siswa.
2.
Fase pemahaman
permulaan
Pada fase ini, para pelajar diajak untuk memahami pembicaraan
sederhana yang dilontarkan oleh guru. Dalam fase ini tidak ada respon lisan,
tetapi dengan perbuatan. Sebagai tahap permulaan, merespon dengan perbuatan
dipandang lebih ringan dibandingkan dengan lisan.
3.
Fase pemahaman
pertengahan
Pada fase ini pelajar diberi pertanyaan-pertanyaan secara lisan
atau tertulis. Sementara itu kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan pada fase
ini adalah:
·
Guru membacakan
bacaan pendek atau memutar rekaman. Setelah itu guru memberikan
pertanyaan-pertanyaan mengenai isi
bacaan atau rekaman tersebut. Jawaban pelajar bisa berbentuk lisan atau
tertulis.
·
Guru memutar
rekaman percakapan dua oarang penutur asli. Selanjutnya guru menanyakan isi percakap dengan pertanyaan yang lebih
mendetail dibandingkan dengan poin a .
pertanyaan tersebut dapat berupa ; apa isi percakapan itu? Bagaimana nada
berbicara orang itu (senang, sedih, atau marah)? Di mana mereka berbicara?
Atau, pernyataan serupa lainnya. Jawaban siswa bisa berupa bentuk lisan atau
tulisan.
·
Guru memutarkan
rekaman percakapan seseorang, misalnya percakapan didalam telepon, namun yang
terdengar hanya satu orang. Para siswa mendengarkan percakapan ini dengan
saksama. Lalu, mereka diminta menebak sesuatu yang dikatakan oleh lawan bicara
orang itu. Alternatif jawaban dapat menggunakan pilihan ganda.
4.
Fase Pemahaman
Lanjutan
Pada fase ini, para siswa diberi latihan untuk mendengarkan berita-berita dari radio
atau televisi. Bisa juga, mereka mendengar komentar-komentar tentang hal-hal
yang disiarkan oleh radio atau tv. Dalam kegiatan ini mereka dianjurkan
mendengarkan sambil membuat catatan mengenai fakta-fakta tertentu yang terjadi
dalam materi yang diperdengarkan, seperti nama, tanggal, tahun, tempat, waktu,
dan lain sebagainnya. Setelah itu, mereka ditugaskan membuat ringkasan bahasa
Arab sesuai dengan tingkat penguasaan mereka terhadap materi yang sudah
disampaikan.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyampaikan materi
menyimak untu sebuah pemahaman (fahmu al-masmu’). Diantarannya adalah
sebagai berikut:
a.
Dalam pelajaran
menyimak, hendanya di pupuk kemauan siswa untuk menafsirkan mana kalimat
melalui unsur-unsur bunyi.
b.
Siswa perlu
dilatih agar dapat megidentifikasai gagasan pokok (main idea) dan
membedakan dengan gagasan tambahan dalam materi dialog teks yang
didengarkannya.
c.
Dalam memilih
teks lisan, hendaknya guru memperlihatkan usia dan minat siswa, kosakata yang
dimiliki siswa, serta tingkat kematangan dan kecepatan siswa dalam mengikuti
tes lisan.
d.
Penyajian teks
lisan bagi tingkat permulaan perlu diulang agar siswa dapat membiasakan diri.
e.
Penggunaan alat
peraga sangat membantu.
f.
Untuk siswa
tingkat lanjut, situasi atau konteks perlu dibuat demi mendekati situasi
sehari-hari.
g.
Guru hendaknya
menuliskan kata-kata kunci sebelum pelajaran dimulai.
h.
Guru
menyampaikan sesuatu yang harus dikerjakan kepada siswa dengan jelas.
D.
Kelebihan dan Kelemahan dalam Pembelajaran Menyimak
Diantara kelemahan dalam pembelaran
menyimak yang sering dialami siswa dalam aktifitas menyimak, antara lain:
1.
Kesulitan siswa
dalam menangkap suara tertentu dari bahasa yang dipelajari.
2.
Kesulitan dalam
keharusan memahami, menangkap setiap kata. Jika ada sesuatu yang terlewatkan,
siswa akan merasa gagal dan khawatir.
3.
Siswa memahami
pembicaraan seseorang dengan cara pelan.
4.
Butuh
mendengarkan lebih dari 1 kali.
5.
Keterbatasan
kemampuan siswa dalam mengambil seluruh informasi.
[1]
Abd Wahab Rosyidi dan Mamlu’atul Ni’mah, Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-Maliki
Press, 2011), hlm.84.
[2]
Acep Hermawan, Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm.130.
[3] Abd Wahab Rosyidi dan Mamlu’atul Ni’mah, Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa
Arab, (Malang: UIN-Maliki Press, 2011), hlm. 85-86.
[4]
Ulin Nuha, Metodologi Super
Efektif Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: Diva Press, 2012), hlm.
87-98.
[5]
Abd Wahab Rosyidi dan Mamlu’atul Ni’mah, Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-Maliki
Press, 2011), hlm. 88.